Seluruh layanan dan dokumen yang dikelola dinas — profil, PPID, publikasi, regulasi, laporan, aset, hingga akun.
Dukungan infrastruktur pariwisata yang tangguh terhadap bencana di NTT sangat krusial. Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi kepulauan memiliki keindahan alam luar biasa dan tersebar di 22 kabupaten/kota dan berbagai pulau, namun juga merupakan daerah yang rawan terhadap berbagai jenis bencana alam. Ancaman bencana alam silih berganti setiap tahun seperti gempa bumi Flores 15 Agustus 2026 dan yang terbaru terjadi di Kabupaten Sumba Barat Daya tanggal 3 Oktober 2026 lalu. Dari pengalaman bencana yang ada selama ini, harus diakui masih banyak infrastruktur yang ada mudah rusak pada saat terjadi bencana seperti gempa bumi termasuk infrastruktur pariwisata seperti hotel dan restoran.
Infrastruktur sangat penting bagi industri pariwisata. Infrastruktur yang memadai adalah fondasi utama yang menentukan kemudahan akses, kenyamanan, dan daya saing suatu destinasi wisata. Transportasi umum yang terintegrasi (darat, laut, udara) memudahkan wisatawan berpindah dari satu objek wisata ke objek lainnya. Ketersediaan pasokan listrik, air bersih, dan jaringan telekomunikasi memastikan kebutuhan harian wisatawan terpenuhi selama berwisata. Ketersediaan infrastruktur dasar di suatu kawasan atau daerah dapat memicu investasi melalui pembangunan destinasi wisata dan amenitas seperti hotel dan restoran, yang berdampak penyediaan lapangan kerja baru. Bagi sektor pariwisata, infrastruktur mendukung upaya membentuk citra dan daya saing destinasi wisata melalui kualitas layanan infrastruktur yang handal yaitu aksesibilitas dan amenitas. Ini meningkatkan reputasi positif suatu kawasan wisata di mata wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.
Kehadiran infrastruktur bukan semata untuk sektor pariwisata saja namun untuk semua sektor karena infrastruktur merupakan jembatan membangun pertumbuhan ekonomi suatu kawasan atau daerah. Infrastruktur memainkan peran penting sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi, penghubung antarwilayah, dan penopang kesejahteraan sosial dalam pembangunan kawasan. Secara umum, fungsi utama infrastruktur bagi pembangunan antara lain penggerak pertumbuhan ekonomi kawasan, membangun konektivitas dan integrasi wilayah, peningkatan kualitas sosial dan hidup melalui akses layanan dasar bagi masyarakat seperti kesehatan (rumah sakit), pendidikan (sekolah), dan air bersih. Infrastruktur juga dapat berfungsi sebagai mitigasi dan pengelolaan lingkungan.
Tulisan ini mencoba menggambarkan sejumlah syarat dan standar penyediaan infrastruktur yang tangguh bencana di NTT khususnya infrastruktur bangunan gedung tahan terhadap bencana gempa bumi yang dapat diterapkan pada fasilitas wisata seperti hotel, restoran dan bangunan fungsi wisata lainnya. Syarat tersebut mengacu pada pedoman teknis pembangunan gedung tahan gempa, tata ruang berbasis risiko dan aspek keandalan bangunan gedung yang meliputi keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.
Penyiapan bangunan gedung untuk fasilitas wisata seperti rumah penginapan, hotel dan restoran yang tahan gempa tidak terlepas dari siklus pembangunan bangunan gedung yang mengusung prinsip berkelanjutan yang dilakukan secara komprehensif melalui tahapan perencanaan, konstruksi, pemanfaatan / pemeliharaan dan tahapan pembongkaran. Terdapat sejumlah aspek yang harus menjadi perhatian dalam menyiapkan infrastruktur pariwisata yang tangguh bencana khususnya bangunan gedung yang tahan gempa. Aspek itu terdiri dari aspek tata ruang, perencanaan bangunan gedung tahan gempa dan dukungan tenaga ahli yang kompeten.
a. Perencanaan Tata Ruang dan Zonasi yang Berbasis Risiko
Penyediaan infrastruktur wisata memperhatikan arahan tata ruang yang ada. Sesuai perencanaan teknis bangunan gedung terkait tata bangunan memperhatikan arahan penggunaan ruang dan intensitas Bangunan gedung pada ruang yang akan dimanfaatkan. Hal yang berkaitan antara lain dengan perletakan bangunan sesuai zonasi ruang, luas bangunan gedung yang dapat dibangun dan ketinggian bangunan.
Melakukan kajian risiko bencana saat pembangunan daya tarik wisata baru, hotel, resort, pelabuhan wisata, restoran dan gedung fungsi wisata lainnya harus didahului kajian risiko bencana. Analisis lingkungan seperti AMDAL menjadi salah satu dokumen yang dipersyaratkan untuk proses perijinan usaha pariwisata berbasis risiko yang diterapkan saat ini.
Zonasi Aman. Fasilitas bangunan gedung wisata harus berada di luar zona merah bahaya tsunami atau longsor. Termasuk perletakan pada kawasan pesisir pantai. Pembangunan hotel pada kawasan pesisir pantai perlu mematuhi arahan batas garis sempadan pantai yaitu 100 meter dari pasang tertinggi atau mengikuti pedoman penataan kawasan pesisir pantai sesuai rencana tata ruang setempat.

Ilustrasi tata ruang kawasan pada bagian kota dan ketentuan garis sempadan pantai . sumber : Istimewa
b. Penerapan Standar Konstruksi Bangunan Tahan Gempa
Pemerintah telah menyusun pedoman bangunan gedung yang memenuhi syarat sebagaimana telah diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan PP Nomor 16 Tahun 2021 tentang aturan pelaksanaan UU Nomor 28 Tahun 2002. Pedoman teknis perencanaan bangunan yang memenuhi aspek keandalan bangunan gedung yaitu keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan. Dan yang terkait dengan bangunan tahan gempa pada aspek Keselamatan yaitu struktur kuat (tahan beban muatan dan gempa bumi)
Pada tahap ini, perencanaan dan desain dilakukan berbasis data, data dan informasi yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan adalah sumber dan bahaya gempa, kondisi tanah, lokasi serta karakteristik bangunan. Data tersebut membantu menentukan tingkat kebutuhan ketahanan struktur bangunan di lokasi tersebut.

sumber : PP 16 Tahun 2021
Konstruksi bangunan tahan gempa.
Seluruh bangunan gedung termasuk untuk fasilitas pariwisata wajib menggunakan struktur bangunan tahan gempa. Prinsip build before disaster dilakukan melalui Penerapan Standar seperti SNI. Ketentuan teknis bangunan tahan gempa di Indonesia diatur secara nasional melalui SNI 1726:2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, serta panduan umum dari Kementerian Pekerjaan Umum. Prinsip utamanya adalah struktur harus berbentuk sederhana, simetris, memiliki kesatuan elemen yang kokoh (monolit), serta bersifat daktail (lentur) untuk meredam energi gempa tanpa mengalami keruntuhan total. Filosofi bangunan tahan gempa bukan berarti membuat bangunan kaku atau tidak rusak sama sekali saat gempa. Tujuannya adalah mencegah bangunan runtuh total sehingga nyawa penghuni tetap selamat, dengan cara meredam dan menyebarkan energi gempa bumi secara fleksibel. Gempa bumi tidak dapat dicegah tetapi dampaknya dapat diminimalkan.
Prinsip utama desain
Prinsip utama desain gedung tahan gempa mencakup integrasi dan kesatuan elemen struktur utama yakni pondasi, kolom, dinding, dan atap, agar mampu menyerap serta menyalurkan energi gempa secara proporsional. Beberapa prinsip desain yang perlu mendapat perhatian antara lain
Aspek penyiapan lokasi. Hasil identifikasi jenis dan kondisi tanah lokasi serta data historis gempa bumi sangat berpengaruh pada pertimbangan konstruksi bangunan secara keseluruhan khususnya pemilihan jenis pondasi. Kondisi tanah yang baik akan turut mempengaruhi kondisi permukaan tanah yang bergerak saat gempa yang tidak merusak struktur bawah bangunan konstruksi dengan cepat.
Desain denah bangunan. Denah bangunan bangunan dibuat dengan bentuk simetris dan sederhana karena mampu memperkokoh struktur bangunan. Bentuk persegi atau lingkaran lebih mampu mendistribusikan gaya guncangan gempa secara merata ke seluruh elemen struktur bangunan.

sumber : Istimewa
Struktur pondasi. Pondasi menjadi struktur bawah suatu bangunan dan menghubungkan rangka satu sama lain agar pergerakannya menjadi satu kesatuan dengan mendistribusikan beban untuk mencapai lapisan tanah. Pada umunya bangunan gedung menggunakan struktur pondasi batu karang dan beton bertulang sementara untuk bangunan bertingkat dan kompleks dipakai beton bertulang dan baja.
Konstruksi Dinding. Struktur dinding mengunakan kolom dan balok sistem rangka pemikul beban (SRPM). Kolom vertikal dan balok horizontal saling mengikat kaku membentuk portal yang utuh, dengan konsep .Kolom Lebih Kuat dari Balok (strong column-weak beam). Dinding (baik bata merah, batako, atau bata ringan) harus diikat ke kolom vertikal menggunakan angkur atau kolom/balok pengaku (kolom praktis) agar tidak mudah roboh ke samping. Penggunaan material dinding yang lebih ringan seperti bata ringan atau panel khusus sangat disarankan untuk mengurangi beban inersia saat terjadi guncangan.
Ketinggian bangunan . Ini berkaitan dengan tinggi bangunan dan jumlah lantai pada gedung merupakan komponen yang menentukan ketahanan bangunan terhadap gempa. Jika tinggi dan jumlah lantai sedikit, biasanya efek getaran gempa akan terasa kecil. Untuk gedung bertingkat dengan banyak lantai (di atas 5 lantai) dapat diatasi melalui perhitungan struktur yang tepat baik khususnya pondasi dan sistem struktur bangunan secara keseluruhan.
Struktur Atap. Rangka atap dianjurkan menggunakan material ringan seperti baja ringan (galvalum) atau kayu berkualitas tinggi yang dirancang sederhana untuk meminimalkan beban di bagian atas bangunan. Rangka atap terikat kuat ke ring balok di bagian atas dinding menggunakan baut angkur agar atap tidak terpelanting atau bergeser saat gempa. Penggunaan penutup atap yang ringan (seperti seng, aluminium, genteng metal, dan bahan alam seperti alang-alang dan bambu) mengurangi gaya guling (overturning moment) saat terjadi guncangan.

sumber : Pusat Studi Gempa,UII

sumber : Istimewa
Rumah tradisional yang ada di NTT dengan konstruksi material alam seperti bambu dan kayu terbukti lebih tangguh terhadap bencana gempa bumi. Model bangunan tradisional ini dapat diterapkan untuk bangunan fungsi wisata seperti penginapan, restoran, pusat souvenir, shelter yang menarik. Material bambu sangat direkomendasikan untuk beberapa model akomodasi baik berbentuk rumah, cottage maupun kabin wisata. Bambu adalah material yang ringan, memiliki fleksibilitas tinggi untuk menyerap energi gempa dan kekuatan tarik tinggi yang mampu bersaing dengan gaya tarik baja.

sumber : Istimewa
c. Dukungan Tenaga Ahli Berkompoten
Ketersediaan dan dukungan tenaga ahli (memiliki sertifikat kompetensi kerja/SKK) dalam pembangunan infrastruktur pariwisata untuk bangunan gedung mulai dari tahap perencanaan, pembangunan, pemanfaatan dan pembongkaran sangat penting. Tenaga ahli tersebut meliputi arsitek, ahli struktur, ahli mekanikal elektrikal serta dukungan ahli geologi karena berkaitan dengan penelitian struktur tanah. Tenaga ahli ini menjadi syarat dalam perencanaan sesuai regulasi pekerjaan konstruksi yang berlaku. Dalam konteks ini, pentingnya bangunan gedung memiliki perijinan bangunan yang sekarang dikenal dengan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). PBG mewajibkan desain bangunan diperiksa oleh tenaga ahli sebelum dibangun, dan salah satunya adalah memastikan struktur mampu menahan gempa atau bencana lainnya. Risiko kegagalan bangunan sudah diminimalkan sejak perencanaan. Sementara SLF mewajibkan pemeriksaan bangunan yang selesai dibangun agar siap dan layak digunakan dan pemeriksaan berkala untuk bangunan lama agar kondisi bangunan tetap layak digunakan meskipun usia bangunan bertambah.
Sementara dari tahapan pemanfaatan dan atau pemeliharaan gedung, perlu dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada SDM Pariwisata seperti pengelola destinasi wisata, hotel, dan restoran agar dapat melalukan pemanfaatan dan pemeliharaan bangunan gedung yang sesuai kaidah tata bangunan sehingga fungsi gedung (seperti hotel) tetap berjalan optimal dan tangguh terhadap bencana. Termasuk wajib memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) darurat bencana dan melakukan simulasi evakuasi gempa/tsunami secara berkala
Selain ketiga aspek tadi, dukungan infrastruktur penunjang juga tidak kalah penting agar infrastruktur yang ada tetap fungsional khususnya pada saat terjadi bencana dan keadaan darurat lainnya seperti gempa bumi (tangguh). Infrastruktur penunjang tersebut antara lain
Ketersediaan pasokan energi cadangan misalnya melalui pemanfaatan energi terbarukan (solar panel) untuk memastikan penerangan dan sistem komunikasi tetap aktif saat jaringan listrik utama padam.
Keamanan air bersih dan sanitasi untuk kondisi darurat yang tidak mudah terkontaminasi oleh banjir atau rob.
Aksesibilitas komunikasi yang tidak mudah lumpuh saat bencana terjadi, untuk koordinasi evakuasi, pusat informasi dan pertolongan pertama. Setiap destinasi wisata unggulan harus memiliki posko siaga bencana, tenaga medis terlatih, dan perlengkapan kesehatan yang memadai
Jalur evakuasi dan titik evakuasi dengan tanda petunjuk yang jelas (dalam bahasa Indonesia dan Inggris). Tempat evakuasi sementara / akhir dalam bentuk bangunan atau lapangan terbuka yang dirancang khusus untuk menampung wisatawan dan warga saat darurat, lengkap dengan fasilitas air bersih dan sanitasi darurat
Sistem peringatan dini yang terintegrasi dan didukung aplikasi informasi real-time untuk penyediaan akses informasi cuaca dan peringatan dini dalam multi-bahasa bagi wisatawan melalui aplikasi seluler atau pusat informasi di hotel, restoran, pusat perdagangan
Dukungan infrastruktur pariwisata yang tangguh bencana di NTT bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan wajib (mandatory). Di samping melindungi keselamatan jiwa wisatawan dan masyarakat menuju Zero Victim, hal ini akan menjaga reputasi pariwisata di mata internasional bahwa pariwisata NTT dikelola secara profesional, aman, dan berkelanjutan. Wisatawan terjamin menemukan mimpi dan pengalaman berharga di NTT
“Discover the dream in NTT: a thousand dreams, one archipelago”
Ditulis oleh Paulinus J. Andjelicus, S.T.,M.T