Performa Pariwisata Nusa Tenggara Timur Tahun 2025(Infografis Kunjungan Wisatawan Tahun 2025)

Pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) perlahan telah bertransformasi menjadi pusat gravitasi pariwisata Indonesia Timur yang menjanjikan. Keindahan dan eksotisme Nusa Tenggara berhasil menarik banyak wisatawan yang terkonversi menjadi angka-angka pertumbuhan yang konkret hingga mencapai 17,99% di Tahun 2025.

Keberhasilan pariwisata NTT tahun 2025 paling nyata terlihat dari performa statistiknya yang jauh melampaui proyeksi awal. Menariknya, jika kita menengok ke belakang, NTT sempat mengalami sedikit penurunan dari 1,62 juta kunjungan di tahun 2023 menjadi 1,55 juta di tahun 2024. Namun, tahun 2025 menjadi momentum V-shaped recovery yang luar biasa.

Pemerintah awalnya menetapkan target kunjungan wisatawan yang cukup konservatif sebesar 1.278.453 orang. Namun, realitas di lapangan menunjukkan total realisasi kunjungan melonjak hingga 1.840.488 orang*, sebuah pencapaian yang menembus batas target hingga lebih dari setengah juta wisatawan. (*Kompilasi Data Distribusi Dinas Pariwisata 22 Kabupaten/Kota se-NTT)

Melihat tren statistik dari tahun 2021 yang hanya mencatat 658.270 kunjungan hingga mencapai puncaknya di angka 1,84 juta pada 2025, grafik pariwisata NTT menunjukkan konsistensi pertumbuhan yang luar biasa.

Dalam peta sebaran kunjungan, Kabupaten Manggarai Barat masih menjadi primadona dan magnet yang kuat bagi wisatawan mancanegara maupun Nusantara. Wilayah yang menaungi Destinasi Super Prioritas (DSP) Labuan Bajo ini berhasil menarik 500.008 kunjungan sepanjang tahun 2025. Sebuah dominasi yang menempatkan ibu kota provinsi, Kota Kupang, di posisi kedua dengan 291.803 kunjungan dan Ngada di posisi ketiga dengan 138.967 kunjungan.

“Dominasi Manggarai Barat dengan angka setengah juta pengunjung menegaskan bahwa Labuan Bajo bukan lagi sekadar gerbang masuk, melainkan ekosistem ekonomi mandiri. Namun, tantangan bagi pemerintah NTT adalah bagaimana mendistribusikan ‘energi’ magnetik ini agar tidak terjadi ketimpangan ekstrem dengan wilayah NTT lainnya.”

Data pariwisata 2025 mengungkap temuan yang sangat tidak terduga terkait kualitas kunjungan melalui indicator lama tinggal wisatawan-Length of Stay (LoS). Meski rata-rata lama tinggal di tingkat provinsi berada di angka 1,67 hari, Rote Ndao muncul sebagai anomali yang memikat.

Bersama Manggarai Barat, Rote Ndao mencatatkan rata-rata lama tinggal tertinggi mencapai 4,00 hari. Rote Ndao telah bertransformasi menjadi surga bagi komunitas selancar dunia dan para digital nomad yang mencari ketenangan. Mereka tidak sekedar singgah, melainkan tinggal lebih lama, dan menyatu dengan lingkungan—sebuah bentuk slow travel yang ideal.

Sebaliknya, kontras tajam terjadi pada Sumba Tengah yang hanya mencatatkan lama tinggal 0,10 hari. Secara analitis, angka ini menunjukkan bahwa Sumba Tengah masih diposisikan sebagai “wilayah transit” atau sekadar pelintasan. Ini adalah peluang pengembangan besar; bagaimana mengubah pelintasan menjadi destinasi yang mampu menahan wisatawan lebih lama.

Dari sisi komposisi wisatawan, kunjungan wisatawan Tahun 2025 juga didominasi wisatawan nusantara, namun data menunjukkan kekuatan mesin ekonomi domestik. Dari total kunjungan, Wisatawan Nusantara (Wisnus) mendominasi secara mutlak dengan jumlah 1.368.021 orang, jauh melampaui Wisman yang tercatat sebanyak 472.467 orang.

Fakta ini membuktikan bahwa stabilitas pariwisata NTT sangat bergantung pada daya beli dan minat pelancong lokal. Wisnus menjadi penyangga utama stabilitas ekonomi pariwisata daerah. Karena itu, investasi pada konsep pariwisata yang terjangkau, inklusif, dan sesuai dengan selera pasar domestik adalah strategi yang tepat dan berkelanjutan.

“Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Nusa Tenggara Timur menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Dinas Pariwisata di 22 Kabupaten/Kota se-Nusa Tenggara Timur yang telah bekerjasama memberikan dukungan data pariwisata dan ekonomi kreatif selama tahun 2025”

*Data Kunjungan Wisatawan diperoleh dari data Distribusi 22 Kabupaten/Kota se-Nusa Tenggara Timur
Oleh: Herman Nai Buti (ASN Disparekraf NTT)

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *