MENULIS ULANG PERENCANAAN PARIWISATA NTT LIMA TAHUN KE DEPAN
Paul J. Andjelicus
Perencana Madya Spasial Dinas Parekraf NTT
Prolog
Sesuai arahan RPJMN 2025-2029, pengembangan kepariwisataan dan ekonomi kreatif di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) didorong untuk menjadi pusat wisata bahari dan wisata tematik khusus bertaraf internasional untuk mendukung pengembangan Koridor Bali – Nusra sebagai super hub pariwisata dan ekonomi kreatif bertaraf internasional. Sementara dalam RPJMD NTT 2025-2029, pengembangan pariwisata diarahkan untuk menggerakkan ekonomi lokal. Kekuatan tren kunjungan wisatawan ke NTT terus meningkat pasca Pandemi Covid-19 dan menjadi momentum yang perlu dijaga. Di sisi lain, tantangan yang harus ditangani adalah meningkatkan rata-rata lama tinggal wisatawan yang masih rendah yang berpengaruh pada kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB NTT dan manfaat ekonomi, sosial budaya dan lingkungan yang diperoleh masyarakat. Ini semua berkaitan dengan upaya meningkatkan daya saing pariwisata NTT, bagaimana meningkatkan kondisi pelayanan wisata yang lebih baik dibandingkan yang diberikan dan ditawarkan daerah lain. Banyak faktor dan kondisi yang perlu dibenahi, mulai dari destinasi wisata sampai kesiapan SDM.
- Potret IPKN NTT
Sesuai Indeks Pembangunan Kepariwisataan Nasional (IPKN) tahun 2024, NTT mendapat skor 3,96 dan duduk di posisi 16 dari 34 Provinsi. Rata-rata nasional adalah 4,03, NTT berada di bawah rata-rata nasional dan hanya 14 provinsi yang berada di atas rata-rata nasional. Bali berada di posisi pertama dan NTB diposisi 18. Dari 5 sub indeks yang dinilai dalam IPKN, NTT dinilai baik untuk sub indeks travel and tourism policy dengan dua pilar yaitu Prioritas pembangunan kepariwisataan dan daya saing harga, namun lemah pada keempat sub indeks lainnya dengan pilar-pilarnya.
Enabling Environment
Pada sub indeks ini, NTT dinilai cukup baik pada pilar lingkungan bisnis, keselamatan dan keamanan serta pilar kesiapan teknologi, informasi dan komunikasi. Namun masih lemah pada beberapa pilar seperti kesehatan dan higienis (indikator yang berpengaruh dari sektor kesehatan seperti rasio dokter, persentasi rumah tangga dengan sanitasi dan air bersih layak, rasio rumah sakit, kasus penduduk terkena penyakit menular), dan pilar sumber daya manusia dan pasar tenaga kerja (indikator yang berpengaruh rata – rata lama sekolah, tingkat penyelesaian pendidikan SMP, produktivitas tenaga kerja di bidang perhotelan dan restoran, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi)
Infrastructure
Pada sub indeks ini, pilar yang dinilai cukup memadai adalah infrastruktur darat dan pelabuhan, sementara yang masih kurang adalah pilar infrastruktur transportasi udara (indikator yang paling lemah adalah ketersediaan tempat duduk pesawat per populasi), dan pilar infrastruktur layanan pariwisata (indikator yang paling rendah adalah perusahaan rental yang terdaftar, tingkat cakupan mesin ATM per populasi, densitas kamar hotel per populasi).
Travel and tourism demand drivers
Pada sub indeks ini, NTT punya kekuatan pada pilar sumber daya alam dan pilar sumber daya budaya, namun masih kurang pada pilar sumber daya non rekreasi dengan indikator yang berpengaruh adalah rasio universitas unggulan, permintaan digital wisatawan untuk daya tarik wisata non rekreasi.
Travel and Tourism environmental sustainability
Pada sub indeks ini, semua pilar yang dimiliki NTT masih kurang atau lemah yaitu pilar keberlanjutan lingkungan (indikator kawasan konservasi), pilar ketahanan dan kondisi sosial ekonomi (indikator yang berpengaruh tingkat kemiskinan), pilar dampak dan tekanan permintaan kepariwisataan (indikator yang masih lemah pada kontribusi PDRB sektor akomodasi dan makan minum, musim kedatangan wisatawan nusantara, kualitas kota dan pusat kota).
Kelemahan dalam setiap pilar dan indikator ini yang menjadi dasar untuk perbaikan dan kajian lebih lanjut dengan memperhatikan potensi dan keunikan yang dimiliki setiap destinasi wisata, kondisi geografis, arahan tata ruang dan kebijakan pembangunan kepariwisataan yang ada di NTT. Beberapa indikator merupakan tugas dan fungsi dari instansi terkait lainnya, sehingga yang harus ditangani oleh instansi kepariwisataan berfokus pada kualitas dan kuantitas SDM pelaku sektor pariwisata, keragaman daya tarik wisata, pembinaan usaha pariwisata dan penataan kota sebagai destinasi wisata baru. - Tren Pariwisata Nasional Tahun 2026
Pembangunan pariwisata NTT tidak terlepas dari pembangunan pariwisata nasional, dengan pengembangan pariwisata berkualitas (quality tourism) menjadi ujung tombak dalam beberapa tahun ke depan. Kementerian Pariwisata RI telah melakukan penilaian penerapan pariwisata berkualitas di beberapa destinasi wisata unggulan khususnya kelima Destinasi Super Prioritas (DSP) termasuk DSP Labuan Bajo. Dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026, telah dirilis hasil penilaian tersebut dan juga tren pariwisata nasional tahun 2026 dan seterusnya. Penerapan pariwisata berkualitas dinilai dari 4 (empat) pilar yaitu daya saing dasar, keberlanjutan, keunikan, dan bernilai tinggi. DSP Labuan Bajo mulai menunjukkan perbaikan yang cukup baik.
Pilar daya saing dasar. Ada penurunan dari aspek kebijakan pendukung akibat penerapan pajak bagi layanan akomodasi dan restoran di kapal phinisi serta rencana pembangunan resort di wilayah Taman Nasional Komodo yang dikawatirkan akan mengganggu kawasan konservasi Komodo dan meningkatkan risiko pencemaran serta erosi lahan.
Pilar keberlanjutan. Ada peningkatan yang didorong perbaikan pada aspek pengelolaan destinasi dan upaya pelestarian lingkungan.
Pilar keunikan. Masih menjadi keunggulan DSP Labuan Bajo, karena keunikan lanskap bahari dan hewan purba Komodo yang tidak ditemukan di destinasi wisata lain. Penataan water front city Labuan Bajo yang terintegrasi dengan panorama laut memperkuat daya tarik estetika. Labuan Bajo mencapai skor tertinggi pada kepercayaan masyarakat terhadap wisatawan melalui arahan pemandu lokal di Taman Nasional Komodo.
Pilar bernilai tinggi. Ada peningkatan karena terdapat upaya perbaikan kualitas layanan akomodasi dan amenitas. Penambahan fasilitas akomodasi ramah lingkungan yang bersertifikasi standar internasional, dukungan kebijakan pembatasan jumlah pengunjung untuk mengelola arus wisatawan untuk menjaga tingkat kenyamanan dan mencerminkan eksklusivitas destinasi wisata.
Penerapan di DSP Labuan Bajo, dapat dijadikan contoh bagi semua destinasi wisata dalam mengembangkan pariwisata berkualitas untuk meningkatkan daya saing pariwisata yang pada akhirnya mendukung peningkatan kontribusi sektor pariwisata bagi PDRB NTT secara keseluruhan.
Selanjutnya dari hasil analisa kajian terhadap tren pariwisata global dan kondisi perjalanan pariwisata nasional, maka terdapat enam tren wisata utama yang akan berkembang di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan yaitu cultural immersion, eco friendly tourism, nature and adventure-based tourism, culinary and gastronomis tourism, welness toursm dan bleisure.
Tren Pendalaman Budaya (cultural Immersion) Wisatawan akan semakin berminat pada kegiatan berwisata yang menuntut interaksi dengan kehidupan masyarakat lokal setempat. Baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus) cenderung memprioritaskan interaksi sosial, pembelajaran lintas budaya, dan refleksi diri selama perjalanan sehingga akan mencari destinasi wisata yang menyajikan hal ini. NTT sudah banyak memiliki daya tarik wisata yang menerapkan interaksi ini seperti di desa wisata Waturaka, Ende dan Kampung Waerebo, di Manggarai . Pada Kampung Waerebo, interaksi dengan masyarakat diperoleh saat menginap di rumah adat Mbaru Niang dan mengikuti aktivitas keseharian seperti menenun, memanen kopi, menikmati kuliner khas, Memberikan pengalaman bermakna bagi wisatawan terkait filosofi hidup masyarakat dan upaya pelestarian budaya serta lingkungan. NTT memiliki setidaknya 534 desa wisata yang bisa dikembangkan untuk menjadi pusat pengalaman tematik berbasis budaya, spiritualitas, atau edukasi yang dapat menarik wisatawan di samping keberadaan daya tarik wisata yang ada.
Tren pariwisata ramah lingkungan (eco friendly tourism) Wisatawan semakin sadar akan wisata yang ramah lingkungan yang akan memilih destinasi wisata yang menerapkan aktivitas yang ramah lingkungan seperti atraksi yang menawarkan pengalaman langsung dalam konservasi dan pemulihan ekosistem, mulai dari wisata tanam pohon, pemantauan satwa liar, hingga program restorasi terumbu karang. Kemudian memilih fasilitas wisata seperti akomodasi bersertifikat lingkungan, destinasi dengan pengelolaan sampah terpadu yang berkelanjutan seperti program pengurangan sampah plastik dan lainnya. Destinasi wisata NTT harus mulai berbenah terhadap aspek ramah lingkungan dengan melakukan identifikasi status destinasi wisata berkelanjutan sesuai pedoman yang ada melalui Permenparekraf Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan, sehingga dapat ditawarkan kepada calon wisatawan.
Tren Pariwisata berbasis alam dan petualangan(nature and adventure-based tourism) Kegiatan wisata di alam terbuka dengan mengeksplorasi potensi alam tetap menjadi daya tarik wisatawan dari dalam dan luar negeri. Eksplorasi yang dilakukan juga akan bergeser ke arah eksplorasi potensi yang lebih unik dan spesifik seperti mendaki gunung api aktif, susur gua, eksplorasi alam bawah laut atau menikmati tinggal di tengah laut dengan kapal wisata. NTT dengan potensi kekayaan alam termasuk wisata baharinya yang kuat dan unik, menjadi peluang besar untuk menarik wisatawan dari segmen ini. Melalui pengelolaan, keragaman daya tarik wisata , kreativitas menyusun paket wisata, narasi wisata yang tersedia dan aktivitas promosi yang tepat.
Tren Wisata Kuliner dan Gastronomi(culinary and gastronomy tourism) Wisatawan tidak hanya mencicipi kelesatan makanan dan menjadi kenyang, namun akan semakin mencari pengalaman kuliner sampai pada sejarah kuliner tersebut dan menjadi satu kesatuan dari kegiatan berwisata dan menjadi salah satu alasan dalam memilih destinasi wisata di masa depan. Wisatawan nusantara cenderung memilih destinasi wisata yang menawarkan pengalaman kuliner khas lokal seperti festival makanan tradisional, kelas memasak dan farm-to-table di desa wisata. Sementara itu, wisatawan mancanegara lebih berminat pada narasi atau cerita di balik tersajinya makanan sebagai bagian merasakan keunikan sebuah destinasi wisata. Terhadap trend ini, desa wisata NTT saat ini sedang berbenah untuk menyiapkan produk unggulan khas desa dan narasinya yang dapat menjadi bagian dalam paket wisata yang ditawarkan.
Tren Wisata Kebugaran (wellness tourism) Wisata kebugaran diperkirakan menjadi tren pariwisata yang terus berkembang pesat di dalam maupun luar negeri. Ini dipicu pergeseran gaya hidup wisatawan menuju keseimbangan dan kesadaran diri, dimana aktivitas wisata tidak lagi hanya sekedar rekreasi dan pelarian dari rutinitas sehari-hari, melainkan dipandang sebagai kesempatan bagi pemulihan fisik dan mental serta refleksi personal secara holistik. Destinasi wisata alam yang dimiliki NTT, dapat menyiapkan fasilitas ini. Kawasan destinasi wisata atau desa wisata yang memiliki paket outbound misalnya memiliki peluang besar untuk mengembangkan wisata kebugaran tidak sebatas pada fasilitas yang sama yang disiapkan di beberapa hotel bintang. Beberapa destinasi wisata yang memiliki potensi ini antara lain Kawasan Parapuar di DSP Labuan Bajo, atau destinasi yang menawarkan kesejukan alam perbukitan sekitar 500 m dpl ke atas seperti Kawasan Fatumnasi di Kabupaten TTS dan Kawasan Lelogama di Kabupaten Kupang.
Tren Wisata Bleisure (business and leisure) Tren wisata bleisure merupakan gabungan perjalanan bisnis dengan rekreasi. Pelaku bisnis cenderung menambah waktu tinggal untuk berekreasi pada destinasi wisata di sekitarnya. Perkembangan ekosistem MICE, nomadic work-life travel dan wisata urban, turut memberikan pengaruh perkembangan bleisure. NTT dengan DSP Labuan Bajo telah menjadi pusat perhatian dunia. Banyak agenda / event nasional dan internasional telah dilakukan di Labuan Bajo yang mendorong peserta yang hadir untuk berekreasi di berbagai destinasi wisata yang ada di sekitarnya. Kehadiran fasilitas MICE Golomori yang berstandar internasional semakin memperkuat DSP Labuan Bajo. Ini akan memberikan kepuasan peserta atau pengunjung, adn memperpanjang masa tinggal yang memberikan dampak ekonomi. Kini saatnya kota-kota lain di NTT khususnya ibukota kabupaten selain Kota Kupang untuk berbenah dengan menyiapkan fasilitas wisata urban termasuk even budaya berkala. - Riset dan Reset Perencanaan Pariwisata NTT
a. Perencanaan sesuai arah kebijakan nasional dan daerah
Menyandingkan kebijakan daerah yang menempatkan wisata sebagai penggerak ekonomi lokal dan terintegrasi dengan kebijakan nasional pembangunan kepariwisataan di NTT menjadi peluang untuk meningkatkan daya saing pariwisata. Memperkuat ekowisata dan wisata budaya berbasis komunitas sebagai penggerak ekonomi lokal merupakan bentuk pengembangan wisata tematik khusus sesuai potensi yang dimiliki NTT dan upaya meningkatkan keragaman daya tarik wisata. Penyiapan destinasi wisata melalui pengembangan desa wisata perlu fokus kepada pengembangan desa wisata bahari dan destinasi wisata yang menawarkan wisata minat khusus dan pengembangan potensi produk unggulan ekraf sesuai potensi yang dimiliki untuk dapat menangkap peluang keenam tren wisata utama tadi.
b. Riset dan kajian dipakai untuk merumuskan kebijakan.
Hasil riset dan kajian yang dilakukan berbagai pihak seperti akademis atau pihak lain perlu dipelajari karena ada sejumlah pemikiran dari berbagai sudut pandang sehingga dapat dijadikan dasar perumusan kebijakan pembangunan kepariwisataan. Kolaborasi dengan dengan berbagai pendidikan tinggi yang mempunyai jurusan pariwisata di NTT perlu diperkuat.
c. Perencanaan komprehensif berbasis penataan ruang
Pariwisata perlu direncanakan dengan baik karena 1). Fenomena pariwisata makin kompleks, terus berkembang setiap waktu karena pariwisata melingkupi seluruh sektor kehidupan masyarakat. 2).Pariwisata berdampak positif dan negatif,3).Pariwisata makin kompetitif dan promosi destinasi wisata makin gencar,4).Pariwisata bisa berakibat buruk pada sumber daya alam dan budaya jika kurang tepat pengelolaannya dan 5).Pariwisata mempengaruhi semua orang dalam komunitas tertentu dan semua yang terlibat dalam pariwisata perlu berpartisipasi dalam proses perencanaan pariwisata.
Perencanaan spasial (tata ruang) diharapkan menjadi acuan dan mampu terintegrasi dengan perencanaan a spasial (RPJPD, RPJMD, Ripparprov, Renstra dan lainnya). Arahan tata ruang pembangunan sektor pariwisata sudah tercantum dalam RTRW NTT 2024-2043 dan RTRW kabupaten/kota.
Perencanaan komprehensif dilakukan dengan menggabungkan beberapa pendekatan perencanaan kepariwisataan yaitu perencanaan ruang, komunitas dan berkelanjutan (Page dan Getz dalam P2Par ITB,1997). Kemudian integrasi rencana dengan isu perubahan iklim, mengingat NTT termasuk provinsi yang rentan terhadap perubahan iklim. Pola hujan yang semakin tidak menentu, musim kering yang panjang, resiko kekeringan, banjir bandang, gelombang ekstrim, potensi terpaan siklon tropis. Perencanaan wisata berbasis adaptasi perubahan iklim perlu menjadi perhatian utama untuk melengkapi dokumen Wisata Aman Bencana di NTT yang sudah disusun tahun 2022 lalu.
d. Peningkatan komponen 3 A Pariwisata (atraksi, aksesibilitas, amenitas)
Peningkatan komponen atraksi dilakukan dengan meningkatkan keragaman / variasi daya tarik wisata yang ada. Adanya paket wisata terpadu yang ditawarkan seperti paket wisata wellness, penjelajahan alam, geowisata dan gastronomi dapat ditawarkan di destinasi wisata yang punya potensi tersebut. Adanya event budaya berkala di setiap daerah. Setiap ibukota kabupaten menyiapkan daya tarik wisata kota dan infrastruktur kota yang baik. Kota dapat menjadi bertempat transit dan menambah lama tinggal wisatawan setelah berkeliling ke beberapa daya tarik wisata yang ada.
Peningkatan aksesibilitas, kesiapan jaringan transportasi seperti kondisi jalan dan moda transportasi yang ada sangat menentukan. Konektivitas dan aksesibilitas daerah akan membantu pertumbuhan wilayah termasuk mobilitas pergerakan wisatawan. Identifikasi perlu dilakukan untuk memetakan ulang tingkat konektivitas dan aksesibilitas destinasi wisata di NTT. Dilakukan bersama dengan instansi terkait khususnya Dinas PUPR dan Perhubungan.
Untuk amenitas, kehadiran fasilitas penunjang seperti hotel, restoran, fasilitas perdagangan dan lainnya, perlu menyiapkan standar fasilitas yang ramah lingkungan sesuai tuntutan trend wisatawan, termasuk homestay yang ada di desa wisata. Tata kelola dan pelayanan berkualitas yang diberikan menjadi perhatian dengan penyiapan SDM secara bertahap. Pelayanan hospitality dalam industri pariwisata sudah menjadi kebutuhan dasar yang diharapkan wisatawan. SDM pelaku di NTT sudah memiliki modal keramahtamaan yang perlu ditingkatkan dan distandarisasi dengan berbagai pelatihan dari dasar sampai tahapan sertifikasi kompetensi.
Epilog
Membangun dan meningkatkan daya saing pariwisata NTT dimulai dengan menata ulang, menyiapkan dan meningkatkan kualitas komponen 3 A Pariwisata (atraksi, aksesibilitas dan amenitas) di DTW yang ada atau 534 desa wisata dalam semangat kolaborasi skema pentaheliks. Pembangunan pariwisata NTT sudah harus dilakukan berbasis riset dan kajian. Sudah banyak hasil riset yang ada baik diproduksi di dalam maupun dari luar NTT yang perlu dicermati kembali. Perencanaan kepariwisataan tidak lahir dari pikiran yang muncul tiba-tiba, secara mendadak, namun lahir dari sebuah proses yang merupakan siklus yang berulang. Praktek perencanaan tanpa riset harus dihentikan karena hanya menghambur-hamburkan sumber daya saat implementasi. Kesempatan untuk menata ulang perencanaan pariwisata terbuka lebar saat penyusunan Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Provinsi (Ripparprov) NTT untuk masa 20 tahun ke depan.
Sumber: Istimewa
Kupang, 31 Desember 2025
Paul J. Andjelicus,MT
