KECERDASAN BUATAN  DALAM DESAIN ARSITEKTUR

Paul J. Andjelicus
Perencana Madya  Bidang Spasial  Dinas Parekraf Provinsi NTT
Anggota Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTT

Arsitektur sebagai salah satu sub sektor ekonomi kreatif ternyata tidak luput dari serangan badai  teknologi  kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Banyak karya desain arsitektur dewasa ini yang mengunakan AI khususnya kebutuhan menghasilkan visualisasi desain arsitektur yang semakin mendekati dunia nyata. Perkembangan dalam 5 tahun terakhir sangat cepat. Kurikulum pendidikan arsitektur di Indonesia  juga mulai adaptif dengan perkembangan AI. Prodi arsitektur di beberapa universitas ternama tanah air  sudah memasukan mata kuliah  terkait  arsitektur digital dan AI.

Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyadari pentingnya para arsitek tanah air untuk memahani penggunaan AI dalam desain. Hal ini dilakukan dengan mengadakan webinar terkait pemanfaatan AI. Kegiatan ini masuk dalam program  pendidikan kompetensi berjenjang yang disebut  Architectural Advance Professional Development Course atau AAPDC. Program ini dirancang IAI  untuk  para arsitek   sebagai Program Pengembangan Profesi Arsitek. Penulis berkesempatan  mengikuti  webinar tersebut yang mengambil  tema “AI untuk Konseptualisasi Desain”  pada hari Selasa 10 Maret 2026 secara daring. Narasumber webinar ini adalah Ar. Yasser Hafizs,GP,IAI dari Matra Studio, sebuah studio arsitektur dari  Jakarta.  Webinar ini  membahas pemanfaatan AI  sebagai bagian dari proses kreatif arsitek dalam mengembangkan konsep desain dengan  materi  meliputi   AI a new design medium,  AI workflow for design ideation dan  AI as a design assistance.

AI a New Design Medium
Pendekatan dalam desain arsitektur menjadi semakin luas dan berkembamg dengan kehadiran AI melalui berbagai tool aplikasi yang terus berkembang secara cepat. AI memang menjadi sebuah model desain baru (new design) untuk mendukung design research, eksplorasi gagasan desain termasuk untuk pemilihan material. Kemudian mendukung studi penataan massa bangunan (massing studies) dan ini yang  sangat digandrungi  arsitek saat ini yaitu dukungan untuk menampilkan tampilan alternatif visualisasi desain yang berbeda-beda secara cepat (quick visualitation).

bangunan, dimensi,  material yang dipakai dan lokasi. AI membantu  arsitek untuk membayangkan visualisasi akhir desain arsitektur yang sesuai dengan konsep  dan konteks yang ada.

AI Workflow for Design Ideation
Arsitek dalam berkarya akan melalui sebuah alur tahapan (workflow) yang terdiri dari penyusunan konsep rancangan, membuat pra rancangan / skematik desain, pengembangan rancangan dan pembuatan gambar rencana.  Kemudian ada  tahapan lainnya yaitu  membantu proses pengadaan pelaksanan konstruksi dan pengawasan berkala aspek arsitektur, yang menjadi  6 (enam) tahapan layanan utama praktek profesi arsitek di Indonesia sesuai UU Nomor 6 Tahun 2017 tentang  Arsitek.

Dari gambar diatas,  AI telah masuk dalam 3 tahapan awal yang cukup   penting.  Pada Idea Generation merupakan tahap konsep rancangan, kehadiran AI membantu penggalian ide dan gagasan bentuk berdasarkan design brief (semacam KAK desain) dan berbagai pedoman regulasi terkait yang ada.  Berbagai pilihan bentuk dapat ditampilkan  melalui text to image, sketch to image maupun image to image.

Gambar di atas merupakan contoh penerapan AI pada tahapan konsep rancangan melalui  text to image.  Model desain taman ruang publik  yang dihasilkan melalui perintah tertentu (prompt) susunan kata / kalimat  yaitu ruang terbuka publik, warga kota yang berjalan, bentuk mainan lego dan bentuk tangga spiral.

Contoh di atas, masih pada tahapan konsep rancangan dari  sebuah sketsa tangan dapat berubah menjadi model  visualisasi sesuai keinginan dengan memasukkan sejumlah prompt seperti kondisi lokasi, material, gaya arsitektur dan lainnya.  
Tahap pra rancangan atau skematif desain, AI membantu  membuat visualisasi 3 Dimensi dengan kemampuan render yang berkualitas untuk menampilkan citra gagasan yang lebih baik. Ini menjadi modal awal untuk pengembangan rancangan sampai  akhirnya sebuah rancangan desain final ditetapkan.

Gambar di atas merupakan Proposal Desain  Instalasi Gerbang Masuk (entrance) Blok M Hub Jakarta yang menggabungkan antara sketsa ide dan foto lokasi yang kemudian divisualisasikan dalam skematik desain dengan bantuan AI.

Gambar di atas,  memperlihatkan visualisasi desain penggunaan  berbagai material (kayu, beton, polycarbonate,  panil alumanium)  pada  tahapan pengembangan rancangan dengan tampilan 3 D dan simulasi rendering. Rendering sendiri merupakan proses penciptaan citra virtual dari desain dalam 3 Dimensi (warna, tekstur, pencahayaan) agar lebih detail dan realistis. Dengan AI, berbagai tampilan perubahan penggunaan material dapat dilakukan dengan cepat (dalam hitungan menit).

AI as a Design Assistance
Tools AI untuk para arsitek sebagai alat bantu (assistance) sesuai fungsinya sudah cukup banyak dengan perkembangan varian / edisi yang begitu cepat. Seperti untuk tampilan image, tahun 2022  ada Midjourney V2 dan tahun 2025 muncul  aplikasi Nano Banana Pro. Untuk design research ada GPTs untuk arsitek,  kemudian  ada MCP (Model Context Protokol) yang  berfungsi sebagai lapisan / layer standarisasi untuk berbagai aplikasi AI yang digunakan agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan layanan eksternal seperti alat, basis data, dan tempat yang telah ditentukan sebelumnya.   Selanjutnya beberapa tools AI untuk  arsitek seperti gambar berikut.

Sebelum menutup sesi webinar ini, narasumber  menampilkan sebuah proses desain arsitektur dengan dukungan berbagai tools AI yaitu  Proposal Desain di Kawasan Sunan  Ampel Surabaya. Proses ini memperlihatkan keterlibatan tools AI dalam perencanaan dari tahap konsep  sampai pengembangan rancangan.

Gambar di atas ini memperlihatkan tahapan pra rancangan untuk kajian  modular struktur bangunan baik secara horizontal maupun vertikal.

Gambar di atas ini adalah model analisis iklim mikro  (radiasi panas) bangunan dan kawasan dengan tools AI Galapagos yang mendukung desain bangunan berkelanjutan, seperti efisiensi energi, penetrasi cahaya alami dan penggunaan material.

Gambar di atas merupakan visualisasi akhir pada tahap pengembangan rancangan yaitu menemukan  bentuk akhir final dari bangunan dan penataan kawasan untuk dapat dilanjutkan pada tahapan penyusunan  gembar kerja.

Lesson Learned
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuka pendekatan baru dalam proses eksplorasi desain arsitektur. AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengembangkan ide, mengeksplorasi berbagai kemungkinan bentuk, serta mempercepat proses konseptualisasi dalam tahap awal perancangan (konsep dan pra rancangan) . Salah satu manfaat yang diperoleh adalah mempercepat waktu pekerjaan desain, sehingga dapat membantu menurunkan biaya operasional dalam bekerja.

Kehadiran AI dalam mendukung desain arsitektur yang luar biasa, telah membuat perubahan besar dalam dunia profesi arsitek. Arsitek dapat saja (merasa)  terancam kehilangan pekerjaan  jika semua orang mempunyai kreativitas yang tinggi dalam menguasai AI tools dan prompt dalam dunia arsitektur. Pertanyaan yang muncul. Apakah arsitek masih diperlukan? Apakah seseorang harus berpendidikan arsitektur untuk mendesain sebuah karya arsitektur?
Terhadap pertanyaan tersebut, yang dapat  dijawab saat ini bahwa menjadi seorang arsitek tidak hanya untuk  menghasilkan gambar  namun  lebih jauh  dari itu. Seorang arsitek menghasilkan pikiran dan memecahkan masalah  dalam menciptakan karya lingkungan binaan yang mewadahi aktivitas manusia dengan baik. Arsitek dapat mengoptimalkan AI sebagai alat bantu (assistance) untuk optimalisasi tugas-tugas yang berulang. Sehingga arsitek fokus pada aspek kreatif, empati dan intuisi manusia yang tidak dimiliki teknologi mesin.

Sumber Dokumentasi : Modul webinar,2026

Kupang, 12  Maret 2026

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *