{"id":1443,"date":"2025-09-30T08:30:10","date_gmt":"2025-09-30T00:30:10","guid":{"rendered":"http:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/?p=1443"},"modified":"2025-09-30T08:30:10","modified_gmt":"2025-09-30T00:30:10","slug":"bambu-bangunan-ramah-lingkungan-dan-destinasi-wisata-berkelanjutan-di-ntt","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/2025\/09\/30\/bambu-bangunan-ramah-lingkungan-dan-destinasi-wisata-berkelanjutan-di-ntt\/","title":{"rendered":"BAMBU, BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN \u00a0DAN DESTINASI WISATA BERKELANJUTAN DI NTT"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Paul J. Andjelicus<\/strong><br>Perencana Madya Spasial Disparekraf NTT Anggota IAI Provinsi NTT<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-left\">Industri pariwisata telah berupaya menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan yang dilakukan melalui upaya mewujudkan Destinasi Pariwisata\u00a0 Berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut telah dikeluarkan pedoman melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif\u00a0 Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman\u00a0 Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Pedoman ini memuat Standar\u00a0 Pembangunan Destinasi Wisata Berkelanjutan yaitu standar untuk Pengelolaan Berkelanjutan,\u00a0 Keberlanjutan Sosial Ekonomi, Keberlanjutan Budaya dan Standar Keberlanjutan Lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Artikel ini akan &nbsp;membahas Standar Keberlanjutan Lingkungan terkait upaya mewujudkan Destinasi Wisata Berkelanjutan melalui kehadiran bangunan fasilitas penunjang wisata yang ramah lingkungan melalui penggunaan material bambu. Salah satu kriteria &nbsp;&nbsp;pada Standar Keberlanjutan Lingkungan adalah Pengelolaan Air Limbah dan Emisi yang mempunyai salah satu sub kriteria adalah Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan Mitigasi Perubahan Iklim. Sub kriteria&nbsp; ini &nbsp;&nbsp;mengharuskan&nbsp; suatu destinasi wisata memiliki target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Kita tahu bersama, &nbsp;penurunan Emisi GRK merupakan isu global penting saat ini untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Destinasi Wisata wajib memiliki program atau kegiatan untuk mengurangi Emisi GRK &nbsp;yang dapat dibuktikan melalui&nbsp;&nbsp; program yang &nbsp;memprioritaskan pemanfaatan energi terbarukan, bangunan ramah lingkungan dan atau&nbsp; program atau kegiatan pariwisata yang dapat mengurangi emisi karbon seperti menanam bakau di pesisir, penggunaan <em>solar lighting<\/em> saat camping, dan sebagainya. Menurut penulis, upaya mengurangi gas rumah kaca dapat dilakukan melalui kehadiran &nbsp;bangunan fasilitas pariwisata yang ada di &nbsp;destinasi wisata seperti bangunan akomodasi atau &nbsp;restoran yang memenuhi prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH) yang meliputi : pengelolaan tapak, efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan air, kualitas udara dalam ruang, &nbsp;penggunaan material ramah lingkungan,&nbsp; pengelolaan sampah dan pengelolaan air limbah. Prinsip \u2013 prinsip &nbsp;tersebut&nbsp; sejalan dengan upaya yang disyaratkan dalam pedoman Destinasi Pariwisata &nbsp;Berkelanjutan pada sub kriteria Emisi GRK.<\/p>\n\n\n\n<p>Penggunaan material ramah lingkungan dapat dilakukan melalui penggunaan material setempat yang ada di sekitar lokasi sehingga mengurangi transportasi material yang dapat meningkatkan emisi karbon. Salah satu material tersebut adalah &nbsp;bambu. Bambu disebut sebagai bahan bangunan yang ramah lingkungan (<em>green material<\/em>) karena memerlukan energi yang lebih sedikit untuk produksi. &nbsp;Bambu bertumbuh dengan cepat dan dapat mencapai ketinggian maksimal &nbsp;dalam waktu tiga tahun saja, Setelah dipanen, bambu bisa kembali beregenerasi dengan cepat. Bambu &nbsp;bisa tumbuh subur di tanah yang tidak produktif seperti daerah jurang.<\/p>\n\n\n\n<p>Bambu &nbsp;dapat mengurangi polusi sehingga mampu mengurangi efek rumah kaca, &nbsp;penyerap CO<sup>2<\/sup>&nbsp;yang baik karena 1 ha bambu mampu menyerap dan menahan 50 ton CO<sup>2<\/sup> per tahun dan mampu menghasilkan oksigen 35 persen lebih banyak dibandingkan &nbsp;pohon biasa lainnya. Akar bambu dapat mengendalikan erosi tanah dan &nbsp;mampu menyerap nitrogen dalam jumlah besar sehingga membantu mengurangi polusi air. Bambu mampu menyimpan air dengan baik karena 1 (satu) rumpun bambu dapat menyimpan 5000 liter air pada musim hujan yang bermanfaat pada musim kemarau.<\/p>\n\n\n\n<p>Bambu sebagai bahan bangunan yang ramah lingkungan, banyak digunakan sebagai bahan bangunan untuk struktur dan komponen bangunan pelengkap pada rumah dan infrastruktur lainnya. Selain ringan dan tahan terhadap gempa, bambu mudah digunakan dan diperbaiki saat terjadi kerusakan, ramah bagi kesehatan, memiliki harga yang lebih murah dibandingkan bahan lainnya. Melalui proses pengawetan yang tepat, kinerja bambu dapat ditingkatkan agar &nbsp;memiliki kekuatan yang besar dan tahan lama.<\/p>\n\n\n\n<p>Sejumlah keunggulan ini telah menjadikan&nbsp; bambu menjadi bahan konstruksi yang semakin populer dalam industri pariwisata. Bambu adalah pilihan yang sangat relevan saat ini untuk bangunan penunjang &nbsp;wisata karena sifatnya yang ramah lingkungan, terjangkau dan memiliki potensi estetika yang luar biasa. Banyak karya&nbsp; arsitektur untuk fasilitas wisata seperti akomodasi dan restoran atau gebang kawasan wisata menggunakan material bambu baik secara keseluruhan maupun dikombinasikan dengan material lainnya. Contohnya &nbsp;dapat dilihat pada beberapa resort hotel dan restoran di Bali yang dibangun&nbsp; dari material bambu dan menjelma menjadi karya yang eksotik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bambu di NTT<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penggunaan &nbsp;material bambu di Nusa Tenggara Timur &nbsp;sangat menjanjikan, karena &nbsp;provinsi ini memiliki kekayaan alam bambu yang melimpah dengan berbagai jenisnya. Material bambu banyak tersedia khususnya di Pulau Flores di samping Pulau Timor dan Sumba sendiri. &nbsp;Hasil penelitian yang ada telah mengidentifikasi 19 jenis bambu di NTT yang tersebar di sepanjang Pulau Flores dan Sumba. Bahkan 4 diantaranya merupakan jenis bambu endemik atau langka.<\/p>\n\n\n\n<p>Belum ada data yang pasti terkait luasan kawasan hutan bambu yang ada di NTT, namun dari data Yayasan Bambu Lestari, terdapat area bambu seluas 80.000 Ha yang tersebar di Kabupaten Mabar, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada dan Nagekeo. Untuk Pulau &nbsp;Sumba ada di daerah Pola, Tana Daru, Wanggameti dan Mangili Wati. &nbsp;Khusus di Kabupaten Ngada sudah ada 10 desa bambu yang dijadikan pusat unggulan dan percontohan untuk daerah lain. 10 desa tersebut adalah Desa Ratogesa, Mataloko, Dokka, Dadawea, Were 1, dan Were 2, Were 4, Waieia, Radabata dan Desa Wogo yang terdapat di Kecamatan Golewa. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau ditarik ke belakang, bambu telah dipakai sebagai material bangunan, karena banyak bangunan adat atau bangunan tradisional di NTT menggunakan material bambu. Pengembangan pemanfaatan material bambu untuk bangunan selanjutnya telah mulai digagas melalui berbagai upaya. Pembangunan pusat kawasan bambu di NTT adalah salah satu contohnya seperti&nbsp;&nbsp; Kampus Desa Bambu Agroforestry di daerah Turetogo Desa Ratogesa Kecamatan Golewa Kabupaten Ngada pada &nbsp;tahun 2021 dan Kampus Bambu Komodo di kawasan Destinasi Gua Batu Cermin, Manggarai Barat tahun 2023 lalu. Kampus Desa Bambu di Kabupaten Ngada dikembangkan oleh Yayasan Bambu Lestari (YBL) di atas lahan seluas 1 Ha dengan &nbsp;beberapa fasilitas yang akan dibangun secara bertahap seperti fasilitas pengawetan bambu, rumah bambu lestari, mess &nbsp;dan aula pertemuan untuk berbagai kegiatan diklat dan pertemuan. Kampus ini memiliki area hutan bambu yang dibiarkan terjaga kelestariannya dan&nbsp; dilengkapi kebun pembibitan yang terdiri dari beberapa jenis bambu dan tanaman sela seperti porang dan tanaman pewarna tradisional.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"695\" height=\"418\" src=\"http:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1445\" srcset=\"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture1.jpg 695w, https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture1-300x180.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 695px) 100vw, 695px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"658\" height=\"416\" src=\"http:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1446\" srcset=\"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture2.jpg 658w, https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture2-300x190.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 658px) 100vw, 658px\" \/><\/figure>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Kampus Bambu Turetogo Kabupaten Ngada<\/strong><br>Sumber : Mogabay.com dan Reaksimedia.com<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara Kampus Bambu Komodo (KBK) \u00a0terletak di kawasan Destinasi Gua Batu Cermin, Manggarai Barat yang menempati area lahan seluas 2,5 Ha milik pemda, \u00a0diarahkan menjadi rumah produksi bersama untuk mengolah bambu menjadi berbagai produk ekonomi kreatif bernilai tinggi dan berkelanjutan. Kemudian akan dikembangkan menjadi pusat pembelajaran (<em>learning centre<\/em>), fasilitas publik bagi masyarakat yang ingin belajar lebih dalam mengenai bambu, mulai penanaman dan permanen.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"296\" height=\"167\" src=\"http:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1447\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kampus Bambu Komodo di Labuan Bajo, Banggarai Barat \u00a0<\/strong>\/ sumber : Monica Tahundaru<\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini, \u00a0bangunan dari bambu di NTT sudah hadir dengan sentuhan teknologi modern sehingga menghasilkan karya bangunan yang indah. Seperti \u00a0Sekolah Perhotelan Internasional yang dibangun oleh Sumba Hospitality Foundation tahun 2015 lalu di Kabupaten Sumba Barat Daya. \u00a0Fasilitas bangunan yang\u00a0 dibangun menggunakan bambu sebagai bahan utama seperti bangunan kelas, penginapan dan fasilitas lainnya. Kemudian untuk \u00a0bangunan fasilitas wisata, \u00a0yang dapat menjadi contoh karya eksotik dari bambu adalah\u00a0 \u00a0\u00a0Restoran Kings di Namosain Kota Kupang dan Restoran La Cove di Kawasan Wisata Pantai Lasiana Kota Kupang.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-9d6595d7 wp-block-columns-is-layout-flex\">\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"699\" height=\"336\" src=\"http:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture4.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1448\" style=\"width:335px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture4.jpg 699w, https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture4-300x144.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 699px) 100vw, 699px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sekolah Perhotelan Sumba\u00a0 di Managa Aba,Sumba Barat Daya<\/strong> \u00a0\/ sumber: beritasatu.com<\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow\">\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"311\" height=\"145\" src=\"http:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture5.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1449\" style=\"width:348px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture5.jpg 311w, https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/Picture5-300x140.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 311px) 100vw, 311px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>La Cove Beach Resto and Bar bertempat di Pantai Lasiana Kupang<\/strong>\u00a0\/sumber : rakyatntt.com<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n\n\n\n<p>Peluang karya arsitektur fasilitas wisata dari material bambu untuk melahirkan bangunan yang ramah lingkungan dan eksotik dengan sentuhan modern di NTT terbuka lebar. \u00a0Material bambu merupakan material ramah lingkungan, tersedia banyak di NTT dan sudah banyak contoh karya baik di luar NTT maupun di dalam NTT sendiri. Kehadiran bangunan ramah lingkungan pada destinasi wisata melalui material bambu ikut memberikan andil nyata bagi\u00a0 upaya membangun Destinasi Pariwisata Berkelanjutan di NTT.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Paul J. AndjelicusPerencana Madya Spasial Disparekraf NTT Anggota IAI Provinsi NTT Industri pariwisata telah berupaya menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan yang dilakukan melalui upaya mewujudkan Destinasi Pariwisata\u00a0 Berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut telah dikeluarkan pedoman melalui Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif\u00a0 Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman\u00a0 Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Pedoman ini memuat Standar\u00a0 Pembangunan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1444,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"_kad_post_classname":"","footnotes":""},"categories":[45],"tags":[],"class_list":["post-1443","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1443","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1443"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1443\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1450,"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1443\/revisions\/1450"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1444"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1443"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1443"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/disparekraf.nttprov.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1443"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}